Komunikasi untuk Hubungan Internasional

Komunikasi untuk Hubungan Internasional

“Komunikasi dalam Globalisasi”

Pada abad ke-20, isu globalisasi telah berkembang di seluruh negara di dunia. Dunia kini seolah tanpa sekat. Dimana semua orang yang berada di negaranya masing-masing dapat saling berinteraksi dan berkomunikasi dengan mereka yang berada di negara lain. Kennedy dan Cohen menyebutkan globalisme adalah sebuah kesadaran dan pemahaman baru bahwa dunia adalah satu. Giddens menegaskan bahwa kebanyakan dari kita sadar bahwa sebenarnya diri kita turut ambil bagian dalam sebuah dunia yang harus berubah tanpa terkendali yang ditandai dengan selera dan rasa ketertarikan akan hal sama, perubahan dan ketidakpastian, serta kenyataan yang mungkin terjadi. Sejalan dengan itu, Peter Drucker menyebutkan globalisasi sebagai zaman transformasi sosial. Sebagian menyebutkan, bahwa globalisasi merupakan pertukaran informasi oleh media dan kemampuan berkomunikasi setiap orang. Bagaimana peranan komunikasi dalam globalisasi tersebut?

Komunikasi

Kata atau istilah komunikasi (dari bahasa Inggris “communication”), secara etimologis atau menurut asal katanya adalah dari bahasa Latin communicatus, dan perkataan ini bersumber pada kata communis Dalam kata communis ini memiliki makna ‘berbagi’ atau ‘menjadi milik bersama’ yaitu suatu usaha yang memiliki tujuan untuk kebersamaan atau kesamaan makna. Komunikasi secara terminologis merujuk pada adanya proses penyampaian suatu pernyataan oleh seseorang kepada orang lain. Jadi dalam pengertian ini yang terlibat dalam komunikasi adalah manusia.

Harold Lasswell dalam karyanya, The Structure and Function of Communication in Society mengatakan bahwa cara yang baik untuk untuk menjelaskan komunikasi ialah dengan menjawab pertanyaan Who Says What In Which Channel To Whom With What Effect? Dimana pertanyaan tersebut mempunyai lima unsur sebagai jawaban atas pertanyaan tersebut.

Who = siapa yang mengatakan? (yang dimaksud adalah komunikator)

What = mengatakan apa? (yang dimaksud adalah pesan yang disampaikan)

Which Channel = melalui saluran atau media apa? (yang dimaksud adaah media yang digunakan)

Whom = kepada siapa? (yang dimaksud adalah komunikan)

Effect = efek apa? (yang dimaksud adalah efek yang ditimbulkan)

Komunikasi pada dasarnya dapat dilakukan sebagai tindakan satu arah, sebagai transaksi dan interaksi. Komunikasi sebagai tindakan satu arah merupakan suatu pemahaman komunikasi sebagai penyampaian pesan searah dari seseorang (atau lembaga) kepada seseorang (sekelompok orang) lainnya, baik secara langsung (tatap muka) ataupun melalui media, seperti surat (selebaran), surat kabar, majalah, radio, atau televisi. Dalam konteks ini, komunikasi dianggap suatu tindakan yang disengaja untuk menyampaikan pesan demi memenuhi kebutuhan komunikator, seperti menjelaskan sesuatu sesuatu kepada orang lain atau membujuk untuk melakukan sesuatu. Komunikasi sebagai interaksi. Pandangan ini menyetarakan komunikasi dengan suatu proses sebab-akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian. Seseorang menyampaikan pesan, baik verbal atau nonverbal, seorang penerima bereaksi dengan memberi jawaban verbal atau nonverbal, kemudian orang pertama bereaksi lagi setelah menerima respon atau umpan balik dari orang kedua, dan begitu seterusnya. Komunikasi sebagai transaksi. Pandangan ini menyatakan bahwa komunikasi adalah proses yang dinamis yang secara sinambungan mengubah phak-pihak yang berkomunikasi. Berdasrkan pandangan ini, maka orang-orang yang berkomunikasi dianggap sebagai komunikator yang secara aktif mengirimkan dan menafsirkan pesan. Setiap saat mereka bertukar pesan verbal dan atau pesan nonverbal.

Globalisasi

Menurut asal katanya, kata “globalisasi” diambil dari kata global, yang maknanya ialah universal. Achmad Suparman menyatakan Globalisasi adalah suatu proses menjadikan sesuatu (benda atau perilaku) sebagai ciri dari setiap individu di dunia ini tanpa dibatasi oleh wilayah Globalisasi belum memiliki definisi yang mapan, kecuali sekedar definisi kerja (working definition), sehingga tergantung dari sisi mana orang melihatnya. Ada yang memandangnya sebagai suatu proses sosial, atau proses sejarah, atau proses alamiah yang akan membawa seluruh bangsa dan negara di dunia makin terikat satu sama lain, mewujudkan satu tatanan kehidupan baru atau kesatuan ko-eksistensi dengan menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi dan budaya masyarakat.

Jika berbicara mengenai globalisasi, maka akan menjurus pada hubungan internasional. Globasasi secara tidak langsung menyebabkan hilangnya sekat-sekat negara yang pada akhirnya memudahkan untuk saling berinteraksi satu sama lain. Kemudahan berinteraksi itu kemudian pada akhirnya melahirkan isu global. Adanya isu global yang ditandai dengan meningkatnya hubungan saling ketergantungan antar negara. Hal itu karena adanya kesadaran bahwa kegagalan dalam mengatasi isu global tersebut dapat mempengaruhi kehidupan masyarakat internasional secara keseluruhan. Sehingga, upaya penyelesaian masalah global dilakukan oleh seluruh negara dan menyebabkan seluruh negara berinteraksi satu sama lain. Dalam konteks hubungan internasinoal pasca-Perang Dingin, terdapat satu hal yang menadi perdebatan hangat di masyarakat internasional yakni “kedaulatan nasional” seperti yang tersirat dalam perjanjian Westphalia 1948. Dalam perjanjian Westphalia 1948 dinyatakan bahwa dengan kedaulatannya, sebuah negara berhak mengatur segala urusan dalam negerinya, termasuk yang berkaitan dengan perlakuan terhadap warga negaranya. Suatu negara juga dilarang campur tangan dalam urusan negara lain. Kini di era globalisasi, dunia serasa menjadi satu. Kedaulatan memang masih ada, tapi kekuatannya sudah terpengaruh oleh arus globalisasi.

Istilah globalisasi tentunya bukan hal yang asing dan baru lagi bagi seluruh masyarakat di dunia. Kata-kata ini sering diagung-agungkan sesuai dengan perkembangan era sebagai jaman modern. Seperti yang dijelaskan sebelumnya, bahwa globalisasi memiliki makna yang sangat luat. Globalisasi dapat mencakup segala aspek, mulai dari politik, hubungan internasional, ekonomi, perdanganan, hingga bisa mencakup hubungan politik internasional, perdagangan, ekonomi, komunikasi, sampai badan intelijen.  Terkhusus untuk globalisasi yang mencakup komunikasi, globalisasi merupakan era pertukaran informasi.

Dengan adanya globalisasi, semua yang terjadi di belahan dunia lain dapat kita ketahui dengan baik. Dengan bantuan media seperti VOA (Voice Of America) Indonesia, misalnya, mempermudah semua berita-berita yang terjadi di wilayah Amerika diketahui oleh masyarakat yang ada di negara Indonesia. VOA merupakan Voice of America atau VOA (bahasa indonesia: Suara Amerika) adalah siaran multimedia (radio, televisi dan internet) milik pemerintah Amerika Serikat, yang menyiarkan beragam program dalam 53 bahasa, sejak tahun 1942. Berpusat di Washington DC, VOA memiliki ratusan koresponden dan jaringan stringer yang tersebar di seluruh dunia. VOA merupakan lembaga yang dibiayai pemerintah Amerika Serikat melalui broadcasting board of governors (Dewan Gubernur Penyiaran). VOA menyiarakan lebih dari 1000 jam program berita, informasi, pendidikan, dan budaya setiap minggu ke lebih dari 100 juta orang di seluruh dunia. Selain itu VOA juga meyebarluaskan misinya lewat jaringan stasiun afiliasi, yakni stasiun lokal tersebar di ribuan kota, sehingga mampu mencapai lebih dari 93 juta pendengar di dunia. VOA didirikan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan berita yang tepat, jujur dan bisa diandalkan. Bukan hanya kemampuan VOA dalam era globalisasi, situs Google pun menjadi salah satu sarana yang patut diperhitungkan. Google memudahkan seluruh masyarakat untuk mengakses informasi, pengetahuan dengan hanya sekali klik. Internet memang seolah memberikan kemudahan dan keuntungan yang besar bagi penikmat berita.

Dengan adanya beberapa hal di atas mempermudah koneksi internet yang dapat diakses dari berbagai penjuru dunia, sehingga memepermudah untuk semua kalangan dapat mengakses informasi hanya dalam hitungan detik. Hal ini menunjukan bahawa pengaruh dari globalisasi sangatlah besar terhadap kemajuan teknologi informasi dan komunikasi. Israel menggempur Lebanon yang jarak negaranya dengan Indonesia bermil-mil jauhnya tapi tetap kita ketahui, hingga detil. Globalisasi membuat kita mengetahui teman-teman kita yang busung lapar di wilayah Ethiopia, sebagian wilayah Afrika, India, dan belahan bumi lainnya. Dengan globalisasi, kita dapat mengetahui bagaimana proses perdamaian yang dilakukan oleh negara superpower Amerika untuk Israel dan Palestina. Hal tersebut yang kemudian disebut sebagai isu global. Terdapat beberapa faktor yang menjadikan suatu isu menjadi isu global, yaitu:

  1. Isu tersebut merebut atau menjadi perhatian para elit pembuat kebijakan dari berbagai negara atau negara-negara terlibat dalam perdebatan isu tersebut.
  2. Isu tersebut secara terus menerus terliput oleh media massa dunia.
  3. Isu tersebut secara terus-menerus menjadi objek studi, penelitian, dan perdebatan para ilmuwan, profesional, dan para pakar dalam masyarakat internasional.
  4. Isu tersebut muncul sebagai agenda dalam organisasi internasional.

Globalisasi membuat seluruh masyarakat dunia kini tidak hanya menjadi pendengar, namun juga memberikan kontribusi berupa pendapat dan opini yang disebarkan melalui situs jejaring sosial terkenal, seperti facebook, twitter, multiply, kaskus, dan masih banyak lagi. Dengan adanya globalisasi yang memberikan kemudahan bagi seluruh masyarakat di dunia dalam bentuk teknologi informasi, maka akan memudahkan komunikasi terjalin dari satu negara ke negara lain. Kita juga bisa dengan mudah berkomunikasi via Skype buatan Estonia untuk menghubungi teman dan sahabat kita yang ada di luar negeri.

Segala kemudahan dalam berkomunikasi ditawarkan oleh globalisasi. Banyak orang yang kagum dengan kecanggihan globalisasi, namun banyak pula yang mengecam bahaya dibalik globalisasi. Bahaya akibat kapitalisme dan konsumerisme selalu diusung kaum penggugat globalisasi. Ketika KFC dan Mc Donald dianggap sebagai barang-barang kapitalis yang dijadikan sebagai cara untuk mengeruk keuntungan sebanyak-banyaknya di negara-negara berkembang. Sehingga, banyak masyarakat yang merasa anti terhadap globalisasi. Dan semua itu, banyak dipengaruhi oleh media yang menyiarkan informasi, dan ditanggapi sinis oleh sebagian masyarakat. Demikianlah cara media yang telah meng-hegemoni kemampuan berpikir masyakarakat di era globalisasi.

Hanya saja, saat ini media seakan menjadi ajang politik suatu negara. Dalam perspektif komunikasi internasional selama ini, nampak terjadi disparitas yang amat kentara antara negara yang memiliki modal dan teknologi (biasa disebut kapitalis) dan negara-negara yang sedang membangun (sering disebut negara dunia ketiga). Negara pemilik modal dan segalanya didominasi Eropa Barat dengan bosnya AS, sementara negara sedang membangun adalah mereka yang terletak di kawasan Afrika, Amerika Latin dan Asia termasuk Indonesia. Bahwa dalam relasi internasional terdapat ketergantungan yang sangat kuat antara negara pinggiran terhadap negara pusat, hal ini berangkat dari ketergantungan modal untuk membiayai pembangunan. Contoh yang paling kongkret adalah konsekuensi  yang mulai dirasakan betapa lemahnya posisi negara Indonesia ketika AS memojokkan Indonesia dalam kancah internasional, seperti tuduhan sebagai negara jaringan terorisme melalui media atau majalah Time. Sementara media (cetak maupun elektronik) adalah instrumen yang amat andal dalam membangun relasi antarbangsa, khususnya membangun citra dan nama baik sebagai bangsa berdaulat. Dalam kasus Majalah Time bisa kita kaji media massa berfungsi menyebarluaskan informasi yang diperlukan untuk penentuan sikap, dan memfasilitasi pembentukan opini publik dengan menempatkan dirinya sebagai wadah independen di mana isu-isu permasalahan bisa diperdebatkan. Jadi apa yang dimuat Time dipandang sebagai sesuatu yang independen dan layak diperdebatkan. Namun mereka barangkali lalai apa yang ditulisnya sangat menyinggung harga diri suatu bangsa dan memiliki implikasi yang luas dalam pergaulan internasional. Sehingga menjadi wajar ketika menimbulkan reaksi keras bagi setiap negara yang terlibat di dalamnya. Kegerahan Indonesia akibat laporan Time juga menunjukkan media bukanlah ranah yang netral di mana berbagai kepentingan dan pemaknaan dari individu atau kelompok akan mendapatkan perlakuan yang sama dan seimbang. Media adalah sumber dari kekuasaan hegemonik, di mana kesadaran khalayak dikuasai. Nampak sekali AS hendak menguasai kesadaran publik internasional tentang Indonesia melalui propaganda Time yang diharapkan terbentuk opini publik. Jallaludin Rakhmat, 1996 mengungkapkan bahwa, harus disadari media massa seringkali dipandang sebagai alat kekuasaan yang efektif karena kemampuannya membujuk pendapat dan anggapan serta mendefinisikan dan membentuk persepsi realitas. Politik adalah segala bentuk untuk mencapai kekuasaan, dan demikian, media seringkali dijadikan salah satu alat untuk mencapai kejayaan politik suatu negara.

Akant tetapi, rasa ketakutan yang berlebihan bisa ditepiskan dengan serentetan keuntungan yang diberikan dalam globalisasi. Kemudahan komunikasi dan jaringan, pertumbuhan ekonomi, peningkatan lapangan kerja, pengentasan kemiskinan, sampai kepada akses ke lembaga peminjam internasional. Pada era globalisasi, teknologi informasi dan komunikasi sudah menjadi bagian dari gaya hidup manusia, kemajuannya luar biasa terutama dalam bidang komputer baik desainernya maupun softwarenya. Hampir setiap bulan para desainer, pabrikan, ahli dalam bidang teknologi komputer terus menerus mengadakan penelitian dan pengembangan teknologi karena perananya sangat penting. Dengan menguasai teknologi dan informasi, kita memiliki modal yang cukup untuk menjadi pemenang dalam persaingan global. Di era globalisasi, tidak menguasai teknologi informasi identik dengan buta huruf.

Bangsa Indonesia yang semakin besar tidak luput dari kemajuan teknologi informasi ini, walapun pada umumnya berada pada tataran konsumen (pemakai) yang kalah jauh dari negara tetangga yang sudah masuk pada tataran desainer teknologi dan produsen komponen-komponen informasi teknologi informasi terutama bidang komputer. Sehingga barang elektronik harganya terjangkau oleh masyarakat. Untuk menyikapi perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat tersebut, diperlukan adanya sumber daya yang handal dan kompetitif agar Indonesia berperan tidak hanya sebagai pengguna teknologi, namun bisa berkembang menjadi pencipta teknologi yang dapat digunakan demi kemajuan Indonesia. Saat ini para siswa, pelajar dan mahasiswa, sudah mulai diberi sebuah mata pelajaran yang berhubungan dengan teknologi informasi dan komunikasi, sehingga diharapkan bangsa indonesia tidak asing dalam penggunaan teknologi informasi dan komunikasi. Teknologi informasi pada era globalisasi sangat berguna didalam kehidupan sehari-hari. Laptop, Komputer dan internet seolah-olah sudah menjadi teman hidup di era globalisasi karena berguna untuk mendapatkan informasi dan kegunaanya jangan disalah artikan.

Pertukaran informasi menjadi krusial agar kita bisa cope dengan lingkungan dan perubahan dunia yang demikian cepat. Akan tetapi, untuk bergabung dengan dunia tentunya kita harus bisa menguasai alat komunikasi, yaitu melalui bahasa. Saat ini, dunia mengenal 6 jenis bahasa yang diakui secara internasional, yaitu bahasa inggris, perancis, jerman, china, spanyol, dan arab. Keenam bahasa asing ini diyakini sebagai bahasa internasional berdasarkan populasi yang menggunakan bahasa tersebut.

Bahasa Inggris merupakan bahasa yang paling populer di negara Indonesia. Sejak anak-anak berada di bangku sekolah dasar sudah diperkenalkan dengan bahasa ini dalam ruang-ruang kelas. Sejak awal, setiap orang memang sengaja dipersiapkan untuk menghadapi era globalisasi yang seakan-akan menjadi momok menakutkan bagi setiap bangsa berkembang. Indonesia pun menyadari, bahwa dunia internasional adalah dunia dengan bahasa yang mengglobal. Jika, Indonesia tidak mempersiapkan penerus-penerus bangsanya untuk menguasai bahasa global, maka akan susah bagi negara ini untuk ikut bersaing dan meramaikan aktivitas di dunia luar. Hal tersebut akan mengakibatkan negar ini akan semakin jauh terpuruk sebagai negara dunia ketiga karena ketidakmampuan sumber daya manusia untuk bersaing dengan dunia luar. Akan tetapi, disinipun terdapat beberapa kejanggalan. Beberapa negara maju di dunia tidak menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa utama. Jepang, Prancis, negara-negara di Asia, Afrika dan beberapa negara Eropa (yang seyogyanya lebih dekat jaraknya dengan Inggris) adalah negara yang tidak bisa berbahasa inggris. Ide globalisasi dari perspektif bahasa sebagai alat komunikasi global cenderung diragukan. Kesulitan berkomunikasi juga dijumpai di negara-negara eropa timur, walau sebenarnya hal tersebut wajar aja karena mereka baru saja menggeliat dari rejim komunis pasca kejatuhan Uni Sovyet.

Selain itu, Markas PBB di Vienna tidak menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam rapat pleno yang dilakukan. Argumen yang diberikan adalah lebih kepada kenyamanan dan kepercayaan dalam berkomunikasi. Untuk itu, peran interpreter atau penerjemah sangat krusial untuk menjembatani language problem yang dihadapi oleh beberapa negara yang  tidak menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa utama.

Komunikasi dalam hubungan internasional memang sangat penting. Selain kemampuan untuk menciptakan persepsi global atas pemberitaan sebuah media, juga menjadi acuan bagaimana seseorang mampu mempengaruhi orang lain dengan kemampuan berbahasanya. Hubungan Internasional yang erat kaitannya terhadap diplomasi, negosiasi, dan hubungan kerjasama antar-negara, mengharuskan setiap mereka yang mendalami ilmu ini harus memiliki kemampuan berkomunikasi yang baik. Seseorang yang memiliki kemampuan berkomunikasi dalam hal bargaining akan semain mengeratkan hubungan kerjasama negara yang tentunya akan berdampak pada sistem ekonominya. Komunikasi dan globalisasi adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Seiring dengan meningkatnya interaksi antara aktor hubungan internasional, baik melalui media maupun pertemuan internasional, batas-batas geografis antar negara pun semakin tidak jelas. Adanya revolusi di bidang komunikasi, teknologi, dan informasi, serta pergerakan dunia yang penuh ketidakpastian di era globalisasi mendorong masyarakat untuk mencari hidup yang lebih baik.

Fadhilah Trya Wulandari

Ilmu Hubungan Internasional ’09

-dari berbagai sumber-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s