Modernisasi Pembangunan Kota Makassar

Kota Makassar adalah central Indonesia Timur.  Maka, tak heran jika Makassar wajib hukumnya untuk menjadi kota yang maju. Kota yang mengikuti arus perkembangan dunia modern tanpa harus meninggalkan budaya tradisionalnya. Dengan alasan itulah, maka pemerintah Kota Makassar secara ‘latah’ mengubah kotanya menjadi kota modern yang mengikuti perkembangan zaman. Pembangunan ruko-ruko pun menjadi pilihan bagi masyarakat dan pemerintah kita. Dari ujung gerbang hingga ujung jalan kota Makassar, semua rumah disulap menjadi ‘double-set’ yakni RUMAH-TOKO (rumah tempat tinggal yang sekaligus menjadi toko) yang bahasa gaulnya : ruko. Pertanyaannya, mengapa pemerintah dan masyarakat kita gencar membangun ruko di kota ini? Apa untungnya? Tidakkah mereka berfikir dampak negative dari pembangunan ini bagi wilayah kita?

Masyarakat dan pemerintah kita tentu tidak begitu saja membangun tanpa didasari alasan-alasan yang menguatkan niat mereka sebelum memilih ruko sebagai pilihan terbaik. Bagi masyarakat kita yang berfikir secara ekonomis, ruko menjadi pilihan terbaik untuk menghemat pengeluaran. Disamping mereka mempunyai rumah tempat tinggal, mereka pun sekaligus mempunyai toko. Alasan bagi mereka yang lebih berjiwa sosial adalah mereka berharap mampu membuka sebanyak-banyaknya lapangan pekerjaan untuk membantu mengurangi pengangguran. Tetapi, apakah dibalik niat mulia itu mereka tidak berfikir dampak keseluruhan bagi kota tercinta ini? Contohnya : berkurangnya wilayah resapan air dan pengurangan lahan hijau akibat lahan dengan pohon-pohon rindang itu secara besar-besaran dan dengan sengaja diubah menjadi lahan beton yang menimbulkan efek global warming yang luar biasa bagi kota ini. Pernahkah anda merasa seperti ‘dipanggang’ ketika berada di jalanan dengan asap kendaraan dan debu-debu yang tidak terkontrol? Tanpa disadari, itu adalah salah satu dampak dari berkurangnya pohon-pohon dan bertambahnya beton-beton. Nah, pertanyaan lain muncul kembali. Mengapa pemerintah tetap memberikan izin mendirikan bangunan (IMB) tanpa henti kepada sang pembuat ruko (ketika mereka akan mulai membangun) jika itu memang berdampak ‘sedikit’ buruk bagi lingkungan kota? Nah, disinilah karena adanya sistem yang mengatur serta factor X, yaitu factor politik yang bekerja. Dampak politik yang ditimbulkan jelas akan sangat mempengaruhi kebijakan politik Negara. Kebijakan-kebijakan itu kemudian sering berubah seiring dengan perubahan jaman. Itulah sebabnya, UU kita ‘sangat’ sering di-amandemen.

Di era globalisasi ini, ideology liberalism dan kapitalisme memang menjadi pilihan utama dalam sistem perekonomian. Apalagi, dengan adanya istilah ‘pasar bebas’ yang sudah dimulai di tahun 2003 lalu ini. Dalam sistem ekonomi kapitalisme, setiap orang diberikan kebebasan secara penuh untuk melaksanakan kegiatan perekonomiannya, seperti memproduksi, menjual, dan menyalurkan barang. Dalam sistem ini pemerintah bisa saja turut ambil bagian untuk memastikan kelancaran dan keberlangsungan kegiatan perekonomian yang berjalan, tetapi bisa juga pemerintah tidak ikut campur dalam ekonomi. Dalam perekonomian kapitalis ini, setiap warga dapat mengatur nasibnya sendiri sesuai dengan kemampuannya. Akan tetapi, ideology ekonomi yang digunakan semua tergantung pada pelaku usahanya sendiri.

Jadi, di era globalisasi yang mengandalkan sistem pasar bebas sekarang ini, semua orang bebas bersaing dalam bisnis untuk memperoleh laba sebesar-besarnya. Semua orang bebas melakukan kompetisi untuk memenangkan persaingan bebas dengan berbagai cara.  Begitu pula masyarakat di kota ini punya hak untuk menentukan nasib mereka sendiri, apakah dengan membuat ruko, mall, atau transstudio (yang sedang hangat dibicarakan), dan lain-lain sebagainya. Hanya saja, jangan sampai sistem ekonomi seperti akhirnya menjadikan kota ini menjadi ‘kota ruko’, semua orang akhirnya ingin membangun ruko. Tetapi, kita bisa bersaing dengan bisnis-bisnis lain selain perdagangan. Mungkin dengan ‘bisnis budaya’ juga mampu menjadi alternative lain. Bisnis budaya bukan dimaksudkan untuk menjual budaya. Melainkan, bisnis melestarikan budaya dengan membuka tempat praktek kesenian tari dan upaya-upaya pelestarian budaya tradisional lainnya. Selain bermanfaat bagi bangsa ini untuk pelestarian budaya (sehingga tidak diklaim lagi oleh Negara lain), juga mampu memberikan citra kota Makassar sebagai kota perdagangan sekaligus sebagai kota sejuta budaya tradisional di Indonesia.🙂 VIVA MAKASSAR.

Fadhilah Trya Wulandari

Ilmu Hub. Internasional UNHAS ‘09

4 responses to “Modernisasi Pembangunan Kota Makassar

  1. …hehehe..resume diskusi tuh….tp bgs kok pmbahasanx…cukup mnarik….. : D

  2. catatandhila

    yiia nih. resume. tapi, daripada ni blog kosong. yiia, udah, di posting aja daah. . hahaha😀

  3. thank you🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s