Paradoks Modernisasi Negara Berkembang

Modernisasi akrab dengan kata perubahan dan kemajuan. Tidaklah jarang suatu masyarakat atau bangsa yang selalu berupaya mengadakan proses modernisasi pada berbagai bidang kehidupan, apakah aspek ekonomi, birokrasi, pertahanan keamanan, ataupun teknologi. Demikianpun pada negara berkembang. Keinginan yang tinggi untuk melakukan berbagai perubahan demi kemajuan negara adalah hal yang sedang menjadi fenomena baru di dunia internasional saat ini. Tak jarang negara berkembang mengalami dilemma. Bagaimana tidak? Di tengah keinginan untuk menjadi masyarakat modern dan lebih maju justru dihadapkan pada ketakutan akan menghilangnya nilai-nilai tradisi oleh orientasi perubahan yang ditimbulkan. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah mampukah negara berkembang mengubah masyarakat tradisionalnya menjadi masyarakat modern? Di antara euphoria kemajuan itu, bagaimana kritik yang terjadi pada negara berkembang terhadap modernisasi?

Modernisasi seringkali diartikan sebagai perubahan masyarakat yang bergerak dari keadaan yang tradisional atau dari masyarakat pra modern menuju kepada suatu masyarakat yang modern. Teori pembangunan modernisasi yang dikemukakan oleh Alex Inkeles dan David H. Smith[1] menyebutkan bahwa modernisasi adalah suatu proses dari serangkaian upaya untuk menuju atau menciptakan nilai-nilai (fisik, material dan sosial) yang bersifat atau berkualifikasi universal, rasional, dan fungsional. Modernisasi menunjukkan sebuah perkembangan. Perkembangan dari hal-hal yang masih bersifat rumit menjadi sesuatu yang praktis, canggih, dan ekonomis. Jika berkaca pada beberapa dekade sebelum modernisasi menguasai negara ini, kita akan melihat banyak hal yang telah berubah. Perubahan itu telihat dari dari pola hidup, tingkah laku, sistem, sosial budaya, ekonomi, dan tentunya teknologi. Jika dulu kita harus menunggu selama satu minggu untuk mendapatkan pesan dari surat yang dikirimkan oleh kantor pos, kini hanya membutuhkan satu menit untuk mendapatkan pesan dari telepon genggam. Tidak hanya di wilayah teknologi, kesehatan pun kini terjangkit virus modernisasi. Jika dulu kita hanya mengenal penyakit malaria atau TBC, kini beralih menjadi penyakit dengan label internasional seperti H5NI, SARS, dan berbagai penyakit lainnya. Manusia modern hingga kini masih kewalahan menghadapi ulah aneka macam penyakit.. Itu semua adalah sebuah proses modernisasi, ketika semua hal mulai bergerak menuju hal yang baru. Sesuai dengan ciri-ciri masyarakat modern yaitu terbuka terhadap pengalaman baru, dan manusia modern selalu berkeinginan untuk mencari sesuatu yang baru. Ini berarti, hampir seluruh masyarakat dunia (baik negara maju atau negara berkembang) tengah berupaya untuk menjadi masyarakat modern.

Pertanyaan yang kemudian muncul adalah modernisasi seperti apa sebenarnya yang terjadi pada negara berkembang? Negara-negara berkembang saat ini tengah mendahulukan kemakmuran ekonomi atau modernisasi dalam pembangunan. Proyek modernisasi negara berkembang ditempuh melalui pembangunan ekonomi untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Dalam era modernisasi ini, cara yang ditempuh untuk mencapai kemakmuran dalam pembangunan ekonomi adalah melalui industrialisasi[2]. Secara ideal, proses industrialisasi bertujuan untuk perubahan struktur ekonomi sehingga terjadi penciptaan nilai tambah yang lebih tinggi dan secara ekonomis masyarakat akan lebih makmur. Bagi Indonesia sendiri sebagai salah satu negara berkembang, melakukan industrialisasi menjadi alasan yang sangat kuat untuk maju. Sebab Indonesia telah memiliki semua sektor, seperti sektor industri yang menghasilkan barang-barang (pertanian, pertambangan, industri pengolahan, konstruksi, air, gas dan listrik), maupun industri jasa yakni perdagangan, angkutan (transportasi), pemerintahan, perbankan, asuransi persewaan dan jasa-jasa lainnya. Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana mengolah serta meningkatkan sumber daya dan teknologinya. Kemajuan industri jelas akan sangat berhubungan dengan kemajuan teknologi. Teknologi memungkinkan negara-negara tropis (terutama negara berkembang seperti Indonesia) untuk memanfaatkan kekayaan hutan alamnya dalam rangka meningkatkan sumber devisa negara dan berbagai pembiayaan pembangunan. Apa dampaknya? Teknologi dapat saja merusak hutan tropis sekaligus berbagai jenis tanaman berkhasiat obat dan beragam jenis fauna yang langka. Seperti yang selalu kita dengar bahwa semakin maju teknologi yang digunakan, industri akan semakin berkembang. Tetapi, semakin maju industrinya, semakin besar dampak pencemarannya pada lingkungan. Indonesia yang disebut sebagai “late corner” dalam proses industrialisasi di kawasan Pasifik masih memiliki teknologi yang sangat minim dan terbelakang. Akan tetapi, pengaruh yang ditimbulkan dalam upaya menuju industrialisasi ini telah dirasakan sedikit demi sedikit. Dapat kita bayangkan bagaimana panasnya hawa di wilayah perkotaan (sebagai pusat industri) karena peningkatan suhu udara. Selama proses industrialisasi ini, lingkungan memang menjadi semakin tidak bersahabat. Pencemaran lingkungan besar-besaran, pengrusakan ekosistem, dan pemborosan energi yang tidak tepat guna dapat saja terjadi akibat penggunaan teknologi berkedok modernisasi.

Berbeda dengan Indonesia yang akan berurusan dengan lingkungan sebagai akibat dari proses modernisasinya, India justru akan banyak mempengaruhi nilai-nilai kebudayaan dan sosial masyarakatnya. India pada awalnya terkenal sebagai salah satu negara termiskin di dunia, kini, menjadi kekuatan global baru di Asia. Hal tersebut dikarenakan oleh modernisasi yang dilakukan India dalam berbagai bidang. Sebagai contoh, India memperkenalkan program Revolusi Hijau[3] sebagai bentuk modernisasi dalam bidang pertanian. Sebelum program Revolusi Hijau diperkenalkan, India adalah langganan beberapa peristiwa kelaparan besar. Salah satunya adalah kelaparan pada tahun 1943-1944 yang menewaskan hamper 3 juta penduduk Bengali. Tapi, kini produksi padi-padian termasuk gandum dewasa ini di India di atas 200 juta ton, atau empat kali lipat lebih dibandingkan tahun 1950-an. India sekarang ini adalah produsen padi-padian terbesar dunia dan eksportir beras terbesar kedua dunia setelah Thailand. Sehingga muncul istilah India adalah from famine to plenty, from humilitation to dignity (dari kelaparan menjadi keberlimpahan, dari dipermalukan menjadi bermartabat). Tak heran, India berhasil melakukan modernisasi di segala bidang untuk menjadi salah satu negara yang patut diperhitungkan di wilayah Asia dan dunia. Akan tetapi, tidak hanya berdampak positif, konsep modernisasi ternyata telah merubah India. Sejak dulu, orang India terkenal sangat menghargai dan menjunjung tinggi nilai budaya tradisional. Kini modernisasi menimbulkan kesenjangan sosial yang begitu tinggi. Jika setiap tahun India akan menambah jutawan baru, Patna (ibukota negara bagian Bihar, India) justru menjadi negara yang paling miskin dan tertinggal pertumbuhan ekonominya di seluruh Asia Selatan dengan segenap permasalahan seperti kekurangan gizi, kematian bayi dan pendidikan yang sangat rendah. Ada kesenjangan yang terjadi di negara ini, dimana tidak semua wilayah mendapatkan hasil dari kesuksesan modernisasi yang selama ini di agungkan oleh India.

Modernisasi memang menjadi hal yang cukup dilematis bagi setiap negara berkembang. Iming-iming keberhasilan menjadi negara maju dapat saja hanya sebuah paradoks bagi negara berkembang, dan akan berakhir kontras dengan modernisasi yang didambakan, jika tidak diorganisir dengan baik. Lazimnya sebuah bangsa, dinamika perubahan dan perkembangan selalu terjadi sejak suatu bangsa baru dilahirkan dan akan terus berlangsung hingga kapanpun. Perubahan dan berbagai faktor yang mengitarinya, secara langsung maupun tidak, memberikan kontribusi kepada wajah kemajuan suatu negara saat ini dan yang akan datang. Modernisasi tidak untuk dihindari, tetapi untuk dihadapi. Berkaca pada dua contoh negara diatas, setiap negara berkembang harus sadar dan mulai mengatur rencana perkembangan kedepannya agar tidak terbuai manisnya kesuksesan modernisasi tanpa melihat kompleksitas permasalahan yang akan ditimbulkan. Modernisasi? Why Not!

Fadhilah Trya Wulandari -Ilmu Hubungan Internasional

*tulisan ini merupakan tugas Pemikiran Politik Negara Berkembang.

3 responses to “Paradoks Modernisasi Negara Berkembang

  1. diky constantine

    hello salam kenal gw diky dari paramadina jakarta jur. HI, tulisan2 lo bagus bget, tapi lbih baik lo cantumin juga referensi yg lebih banyak lagi… gw bakal terus ngikutin tulisan2 lo…. n_n

  2. hai diky. makasih udah mampir di sini. yup. gw bakal brusaha buat bikin tulisan lagi dengan referensi yg lebih banyak. tengkyu sarannya. eh, aku kenal Riri Malikah, Indah Permanasari, dkk dari Paramadina. kamu kenal mereka? salamin yah🙂

  3. BTW ciri2 modernisasi di negara berkembang apa ya?
    soal snmptn taun ini smpet menanyakn hal tsb.
    opsinya.
    1.bnyaknya turis asing yg msk ind.
    2.mkn brkurang pemikiran mistin n g logis.
    3.derasnya arus bdaya barat yg dianut generasi muda.
    4.perubahan cara hidup tradisional menjadi rasional.

    aku si milinya yg no.2n4=C.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s