GEOPOLITICAL CODES

Kehidupan yang bersifat geografi politik telah berkembang ketika kelompok manusia menetapkan wilayah kekuasaannya. Ketika kelompok tersebut telah menetapkan wilayah kekuasaan dan menjaga teritorialnya, maka pada dasarnya telah berpolitik secara nyata. Di dalam kehidupan politik tersebut sangat dipengaruhi dan ditentukan oleh keadaan alam. Unsur lingkungan yang dianggap paling dominan adalah iklim dan relief permukaan bumi. Selain itu, Montesquieu berpendapat di dalam bukunya yang berjudul De I’esprit des Lois bahwa iklim, topografi, dan juga faktor fisis lainnya sangat berpengaruh dalam sistem politik. Unsur-unsur tersebut kemudian disebut sebagai geopolitical codes. Kode geopolitik merupakan physical features atau bagian dari suatu negara yang berkaitan dengan kondisi geografi (sumber daya alam, iklim, topografi, permukaan bumi, batas wilayah) yang menjadi faktor penting dalam menentukan kebijakan suatu negara.

Kebijakan politik luar negeri sedikit banyak dipengaruhi oleh geopolitical codes. Faktor tersebut ditentukan oleh :

1.       Faktor spasial. Segala bentuk kebijakan politik luar negeri suatu negara ditentukan berdasar atas kondisi geografisnya (letak, luas, bentuk, sumber daya alam, sumber daya manusia, dan hubungan internalnya). Hal ini disebabkan besarnya pengaruh faktor alam terhadap negara dan sangat berpengaruh terhadap aktivitas politik yang merupakan indicator tumbuh dan berkembangnya kekuatan negara. Sebab negara mengalami perkembangan dan pertumbuhan yang tergantung dari faktor geografisnya dan kemudian menentukan kebijakan-kebijakan yang diambil dalam upaya memberi kesejahteraan negaranya.

2.       Faktor politik dan faktor power. Hal ini berkaitan dengan kondisi politik suatu negara, yaitu bagaimana Undang-undang dan konstitusi diberlakukan dalam upaya mengatur dan melindungi negaranya. Selain itu, faktor ini juga mengatur bagaimana suatu negara berinteraksi dengan negara lain dengan membawa kepentingan nasional masing-masing.

Kedua faktor tersebut saling berhubungan, dimana geopolitical codes secara umum menjelaskan bagaimana natural resources (sebagai faktor spasial) berkaitan dengan penentuan kebijakan suatu negara dan membentuk kepentingan nasional. Kondisi geografis suatu negara akan sedikit banyak mempengaruhi power negara tersebut. Suatu negara yang kaya akan sumber daya alam memiliki peluang untuk menjadi negara yang kuat. Semakin besar power negara tersebut, akan mendominasi pembentukan code, dan geopoltical code dari negara dengan power yang besar itu akan mempengaruhi geopolitical code negara lain.

Colin Flint, dalam bukunya Geopolitics: Mapping the Dynamism of the US Geopolitical Code mengungkapkan lima elemen penting dalam geopolitical codes, yaitu:

a. Mengidentifikasi potensi yang dimiliki oleh sekutu

b. Mengidentifikasi potensi yang dimiliki oleh musuh

c. Mendefinisikan cara mempertahankan sekutu saat ini dan membina kerjasama baru

d. Mendefinisikan cara menghadapi musuh yang ada dan yang akan muncul

e. Mewakili praktek a-d untuk masyarakat domestik dan global

Terdapat tiga level dalam geopolitical codes :

1.       Local level, memperhatikan bagaimana potensi geografis suatu negara berpengaruh pada kepentingan nasional negaranya. Dalam tahap ini, lebih berkaitan pada internal yang membentuk kebijakan negara. Hal ini disebabkan adanya rasa persatuan dan kesatuan nasional banyak dipengaruhi oleh sifat-sifat dan kondisi wilayah territorial negara. Lokasi, luas, dan bentuk wilayah, keadaan iklim, topografi serta potensi sumber daya alam mempengaruhi kebijakan stratei dan power, struktur ekonomi dan penyebaran penduduk, pola pengembangan pertahanan dan keamanan kekuatan nasional.

2.       Regional level, memperhatikan bagaimana batas wilayah dan sumber daya alam berpengaruh terhadap kerjasama dengan negara yang dekat secara geografis.

3.       Global level, memperhatikan bagaimana kepentingan nasional yang dimiliki oleh suatu negara dibawa ke dunia internasional dan menjadi penentu dalam membangun kerjasama tersebut.

Contoh kasus: Sungai Jordan.

Ada kecenderungan pola konflik perbatasan yang berkembang di Timur Tengah banyak disebabkan oleh dua faktor: Pertama, faktor alamiah yakni konflik perbatasan yang disebabkan oleh kondisi perbatasan yang bisa difahami karena area perbatasan antar negara tidak dibatasi oleh alam. Inilah yang dalam masa klasik perbatasan menjadi sangat cair. Kedua, faktor artifiasial yakni konflik perbatasan yang disebabkan oleh adanya perubahan perbatasan sebelumnya setelah ada kebijakan baru. Salah satu variabel yang sangat dominan adalah kebijakan pemerintah kolonial yang seringkali membuat garis perbatasan dengan  menabrak garis-garis perbatasan alamiah seperti etnis, sungai, gunung. Hal inilah yang kemudian menimbulkan gejala separatisme dan irredentisme, yakni sebuah gejala untuk memisahkan diri dari suatu negara karena perbedaan etnis untuk kemudian bergabung dengan negara lain dengan yang memiliki kesamaan etnis. Kasus konflik perbatasan antara Iran, Iraq, Kuwait, Jordania, Suriah, Lebanon lebih banyak disebabkan karena masalah ini.  Sumberdaya yang juga menaikan potensi untuk konflik adalah air. Air dalam masa lalu merupakan sumber kehidupan yang banyak sekali menimbulkan ragam konflik. Dalam masa modern-pun, konflik tentang air juga tidak surut. Konflik antara Israel dan Suriah juga tidak bisa dilepaskan dari kontrol air atas sungai Jordan yang kebetulan akses ke Israel banyak berada di wilayah Suriah.  Demikian pula Suriah dan Jordania-pun terlibat konflik air atas sungai Jordan. Sebelum perang 1967, Israel hanya menguasai dua sumber air: laut (yang didesalinisasikan) dan Sungai Dan. Tetapi setelah 1967, Israel mendapat tiga sumber tambahan: Lembah Jordan, Sungai Banias (utara Dataran Tinggi Golan), dan Sungai Hasbani.

Sengketa Israel dengan negara-negara tetangga disebabkan oleh pendefinisian batas wilayah yang notabene terdapat (atau dekat dengan) sumber air. Suriah menuntut “penetapan kembali batas 1967″ yang dengan itu memungkinkan Suriah mengakses Sungai Jordan dan Laut Galilee. Konflik air Israel-Jordan diselesaikan di Wadi Araba pada Oktober 1994. Hal ini menunjukkan bahwa kondisi geografis suatu neara sangat mempengaruhi kebijakan luar negeri dengan mempertahankan kepentingan nasional masing-masing negara.

Sejauh ini sengketa air antar negara ditangani oleh lembaga internasional. Organisasi perdagangan dunia, WTO (World Trade Organization), menangani sengketa akibat keperluan komersial. Dengan catatan negara yang bersengketa adalah anggota WTO. Sementara lembaga dibawah PBB untuk masalah air yakni UN International Hydrologicala Program dibentuk untuk menjalankan manajemen pengelolaan sumber daya air yang efektif.

Fadhilah Trya Wulandari-Ilmu Hubungan Internasional UNHAS

Sumber:

Flint C., Adduci M., Chen M., and Chi Sang-Hyun. 2009. Geopolitics: Mapping the Dynamism of the United States’ Geopolitical Code: The Geography of the State of the Union Speeches, 1988-2008. Routledge, New York.

Hayati S., dan Yani A., 2007. Geografi Politik. Refika Aditama, Bandung.

Flint, Colint. 2006. Introduction to Geopolitics. Routledge, New York.

http://www.faktadandata.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s