FOOD SECURITY IN SUDAN

Pada tahun 1987, World Commision on Environment and Development (WCED) menyerukan perhatian pada masalah besar dan tantangan yang dihadapi pertanian dunia. Bahwa jika kebutuhan pangan saat ini dan mendatang harus terpenuhi, perlunya suatu pendekatan baru untuk pengembangan pertanian. Pada beberapa tahun terakhir ini perhatian dunia terhadap ketahanan pangan dirasakan semakin meningkat, oleh karena pangan merupakan kebutuhan dasar yang permintaannya terus meningkat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dunia. Pangan diproduksi secara luas sehingga dunia surplus pangan, tetapi mengapa banyak orang yang masih kelaparan?

Sejak tahun 1798 ketika Thomas Malthus memberi peringatan bahwa jumlah manusia meningkat secara eksponensial, sedangkan usaha pertambahan persediaan pangan hanya dapat meningkat secara aritmatika. Dalam perjalanan sejarah dapat dicatat berbagai peristiwa kelaparan lokal yang kadang-kadang meluas menjadi kelaparan nasional yang sangat parah diberbagai Negara. Permasalahan diatas adalah cirri sebuah Negara yang belum mandiri dalam hal ketahanan pangan. Kebutuhan pangan di dunia semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk di dunia. Pada tahun 1930, penduduk dunia hanya 2 miliar dan 30 tahun kemudian pada tahun 1960 baru mencapai 3 miliar. Lonjakan penduduk dunia mencapai peningkatan yang tinggi setelah tahun 1960, hal ini dapat kita lihat dari jumlah penduduk tahun 2000an yang mencapai kurang lebih 6 miliar orang, tentu saja dengan pertumbuhan penduduk ini akan mengkibatkan berbagai permasalahan diantaranya kerawanan pangan.

Sudan meupakan Negara di Afrika yang seyogyanya kaya akan sumber daya. Keadaan ekonominya terus diperbaiki pada tahun-tahun belakangan ini. Pertanian dan peternakan adalah dua fokus utama perbaikan ekonomi oleh Sudan. Sudan sedang berlomba untuk memperbaiki ketahanan pangan yang sebelumnya telah hancur akibat konflik internal yang terjadi. Dengan wilayah selatan yang kini menjadi negara merdeka sendiri, Sudan akan terus menghadapi tantangan kemanusiaan akibat konflik yang sedang berlangsung dan ketidakamanan di wilayah barat Darfur dan eskalasi konflik di daerah Abyei dan negara bagian Kordofa Selatan. Di wilayah Darfur, sekitar 2 juta orang telah terlantar akibat konflik yang pecah pada tahun 2003. Konflik yang sedang berlangsung telah menyebabkan kerusakan perdagangan dan pasar dan mengganggu kehidupan masyarakat. Hal ini juga menghambat pengiriman bantuan kemanusiaan dengan pembatasan gerakan para pekerja. Eskalasi konflik di daerah Abyei dan di negara bagian Kordofa Selatan menimbulkan arus pengungsian sebanyak ratusan ribu orang dari rumah mereka dan jauh dari sumber penghidupan. Di timur dan di pusat Sudan, mata pencaharian masih dalam kondisi ketegangan oleh konflik dan dislokasi mata pencaharian ekonomi menjadi keprihatinan utama di negeri ini.

Konsep ketahanan pangan (food security) mulai muncul dan dikembangkan seiring terjadinya krisis pangan dan kelaparan. Istilah ketahanan pangan dalam kebijakan pangan dunia pertama kali digunakan pada tahun 1971 oleh PBB untuk membebaskan dunia terutama negara–negara berkembang dari krisis produksi dan suplay makanan pokok. Fokus ketahanan pangan pada masa itu menitik beratkan pada pemenuhan kebutuhan pokok dan membebaskan daerah dari krisis pangan yang nampak pada definisi ketahanan pangan oleh PBB sebagai berikut:

food security is availability to avoid acute food shortages in the event of wide spread coop vailure or other disaster.

Pangan merupakan kebutuhan dasar yang permintaannya terus meningkat seiring dengan perkembangan jumlah penduduk dan peningkatan kualitas hidup, namun demikian dalam beberapa hal definisi atau konsep ketahanan pangan sangat bervariasi pada banyak pihak yang berkepentingan. Persoalan ketahanan pangan yang terpenting adalah bagaimana Negara atau pihak–pihak yang berkepentingan memperspektifkan pembangunan ketahanan pangan, memiliki upaya pemantapan ketahanan pangan, serta memiliki opsi dan strategi pencapaian ketahanan pangan.

FOOD SECURITY IN SUDAN FOR NOWADAYS

Perekonomian Sudan pada tahun 2010 mengalami pertumbuh sebanyak 5%, 4,5% setelah di tahun 2009 ini adalah salah titik terendah dalam persentasi pembangunan ekonomi yang diharapkan oleh Sudan. Perekonomian diproyeksikan tumbuh 5,1% pada 2011 dan kemudian 5,3% pada tahun 2012 terutama karena produksi minyak meningkat dan keuntungan berkelanjutan di sektor non-minyak. Sektor non-minyak yang menjadi factor pendukung pertumbuhan ekonomi dalam jangka menengah adalah melalui kebangkitan factor pertanian dan peningkatan investasi dalam infrastruktur, terutama jalan dan listrik, dan manufaktur.

Sudan memiliki kemampuan dalam bidang ekonomi terutama dalam bidang pertanian. Hanya saja, kekerasan yang meningkat di wilayah Darfur hingga wilayah selatan Sudan menimbulkan kekhawatiran akan kondisi pangan di Negara tersebut. Meningkatnya pertempuran antara pemberontak Darfur dan Angkatan Bersenjata Sudan (SAF) dan kebijakan lanjutan reformasi ekonomi mengancam perbaikan pangan Sudan. Di wilayah Sudan utara, keamanan pangan yang cukup rawan pangan terkonsentrasi di wilayah Darfur, Laut Merah, Utara Kordofa, Nil Putih, Blue Nile, dan Selatan negara bagian Kordofa. Di Darfur dan Laut Merah, kerawanan akan keamanan pangan diperkirakan akan terus berlanjut sampai Juni, karena factor ketidakamanan wilayah oleh konflik dan mata pencaharian yang terbatas. Di daerah lain (Utara Kordofa, Kordofa Selatan, dan Nil Putih), kerawanan pangan hanya terjadi selama Mei sampai Oktober. Kerawanan pangan yang tinggi diprediksikan terjadi dalam wilayah Abeyi dan Jabal Mara sampai Juni karena faktor ketidakamanan rakyat sipil oleh konflik internal dan akses terbatas ke pasar.

Sama hanya dengan  di bagian Sudan selatan, makanan untuk rumah tangga tergolong tidak cukup aman, hal ini disebabkan wilayah tersebut mendapatkan hasil yang berada di bawah batas normal, ketersediaan biji-biji berkurang, harga bahan pangan meningkat dan dalam jumlah yang terbatas. Kerawanan akan masalah pangan tersebut bertahan hingga Maret dan April 2001 dan meningkat dengan sangat tinggi di bulan April hingga Juni 2011.

Kondisi keamanan di wilayah Sudan yang cukup tidak baik mengakibatkan kemampuan masyarakat untuk mendapatkan pangan sangat terbatas. Meskipun telah sering dilakukan referendum perdamaian akan konflik-konflik demi tercapainya keamanan di Sudan, pengaruh yang diberikan telah mulai dirasakan oleh masyarakat. Dampak yang diberikan pasca konflik internal Sudan adalah peningkatan harga pangan yang cukup signifikan dan arus penyuplaian makanan pokok serta komoditas non makanan terganggu secara langsung.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh beberapa organisasi Internasional demi menyelamatkan ketahanan pangan di wilayah konflik ini. Salah satunya adalah WFP (World Food Programme). World Food Programme telah menjalankan beberapa program diantara pemberian voucher bagi para pengungsi korban konflik Sudan. Sebagai bagian dari program baru, seluruh korban pengungsi dan setiap anggota keluarganya akan menerima voucher makanan senilai £ 17 Sudan (sekitar US $ 5,60), yang mereka dapat gunakan untuk menebus total 14 item makanan di toko-toko pilihan di wilayah tersebut. Pilihan mereka termasuk, sorgum, gandum, beras, millet, kacang, gula, garam beryodium, okra kering, tomat kering, daging, telur, minyak kacang tanah, miju-miju dan kambing. Dalam voucher akan bernilai £ 8 Sudan dan bantuan sereal akan terus diberikan secara langsung melalui WFP dalam bentuk distribusi. WFP telah memberikan bantuan makanan kepada masyarakat pengungsi dan korban konflik Darfur sejak tahun 2004. Selama dua tahun terakhir, telah diadaptasi program darurat untuk kebutuhan yang berkembang dari para pengungsi dan kelompok rentan lainnya di wilayah ini. Tujuan WFP adalah untuk membantu korban pengungsian untuk mendapatkan berbagai barang sehingga mereka dapat menikmati berbagai makanan yang tersedia di pasar lokal, tetapi berada di luar jangkauan mereka, para pengungsi. Dengan demikian, program voucher makanan juga akan membantu untuk meningkatkan ekonomi lokal dan petani dukungan, yang pada gilirannya akan mampu menghasilkan lebih banyak makanan.

Tidak hanya itu, bantuan untuk menyelamatkan ketahanan pangan di negeri konflik ini datang dari wilayah Uni Emirat Arab. Uni Emirat Arab menjadikan Sudan sebagai pengamanan ketahanan pangan Negara kayak minyak di Teluk Persia tersebut. Sudan merupakan kiblat investasi negara Afrika kaya karena negara tersebut membuka peluang investasi yang mencapai miliran dollar di sektor pertanian, selain itu Sudan juga merupakan salah satu negara Arab terluas kawasannya dengan kawasan pertanian seluas 85.000.000 ha, dan baru tereksploitasi  sekitar 15 % saja. Sudan juga sudah menandatangani kerjasama di bidang  pertanian dengan beberapa negara Arab lain antara lain Kuwait dan Jordania untuk menanam gandum dan jagung, begitu juga dengan Mesir untuk menanam pertanian di kawasan Timur dan Selatan Sudan.

Sudan merupakan negara yang memiliki wilayah pertanian yang sangat luas menjadi ironis ketika tidak mampu menjaga ketahanan pangan yang dimiliki. Sudan harus terus berupaya untuk memberikan keamanan terlebih dahulu kepada masyarakatnya sehingga daya jual, daya beli, dan proses perdagangan tidak mati oleh konflik yang berkepanjangan.

Bantuan luar negeri oleh organisasi internasional dan negara-negara asing menjadikan Sudan memiliki kesempatan untuk memperbaiki ketahanan pangan yang dimiliki serta berupaya untuk meningkatkan produksi pangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia menghasilkan pangan yang berkecukupan bagi rakyatnya, bermutu, dan mampu bersaing di kancah Internasional.

Fadhilah Trya Wulandari

Ilmu Hubungan Internasional Universitas Hasanuddin

SUMBER:

Mahela dan Sutanto, Jurnal Protein Konsep Ketahanan Pangan Vol.13 No.2. 2006.

Sudan Food Security Outlook 2011.

African Economic Outlook.

The New York Times, on the web.

http://wfp.org World Food Programme 2011 diakses tanggal 28 November 2011

http://idur.wordpress.com diakses tanggal 28 November 2011

http://sosbud.kompasiana.com diakses tanggal 28 November 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s