Another-Hectic-Days

Assalamualaikum

(Ciee sekarang lebih alim cieeeee…)

Uhuk. Lama sekali rasanya ga bercuap-cuap dengan The Red Shoes. Sibuk soalnya. Sibuk mencari kesibukan. Hahah. Well, I’m finally here to share many things that I got after all. Cerita pertama adalah tentang keberanian saya mengikuti seleksi pertukaran pemuda antar-negara. Weleh Weleh. Berani sekali. Emangnya saya bisa apa yah? Lulus kah saya? Penasaran? Mari melihat apa yang terjadi selama seleksi. Cekidots.

Pertama kali tau tentang PPAN itu dari senior saya yang setahun lalu terpilih untuk ke Jepang-Asia Tenggara di program SSEAYP. Tapi, honestly, saya ga tau ini program apa, bagaimana, dan sebagainya. Sampai akhirnya setahun kemudian yang which is tahun ini, saya dapat info dari teman kalau seleksi PPAN akan segera terbuka. Awalnya tidak begitu merespon secara excited, karena awalnya yang saya tau PPAN itu cuma Jepang dan juga karena saya tau info ini hanya sekitar 5 hari sebelum hari seleksi. Mepet banget. Errr. Tapi, setelah liat baik-baik infonya, saya langsung semangat 45! Karena dari beberapa program, saya langsung tertarik karena ada AUSTRALIA disitu. AUSTRALIA loh ini.. AUSTRALIA loohhh… Negeri-masa-depan-impian saya sejak dulu. Dari dulu pengen kuliah di Australia, tapi karena no money no cry, akhirnya no australia australia-an no more. Jadi, sekarang ada kesempatan dong buat ke negeri Kanguru buat ketemu sama kembaran, koala (eh). Tapi, jangan senang dulu cyiinn.. sebenarnya dari semua program hanya program SSEAYP yang available buat saya karena dari persyaratan umur 18 ke atas. Sedangkan untuk Australia, syaratnya harus 21 tahun! APAAAAAHH?!!! Karena umur saya yang masih sangat muda dan baru saja menginjak umur 20 tahun, saya kemudian Galau. Gundah. Gulana. Gurame. Gunawan. Gunanjar. Gulintang. (apa sih). Tapi, berhubung saya tidak bisa lihat laut dan tidak bisa naik kapal, walaupun itu kapal pesiar canggih, kecuali Titanic plus Leonardo Di Caprio di dalamnya, akhirnya dengan sangat berani saya tetap mengajukan untuk program AIYEP. Maju Tak Gentar, Membela Yang Benar. Horas Bah!

Setelah melewati seleksi tertulis dan wawancara lisan di tahap pertama akhirnya..

ImageMajulah saya di seleksi tahap kedua di tes hari kedua berhubung pesertanya sangat banyak. Disinilah hari dimana semua yang ELO bisa, tampilin deh! Dari fashion designer, photographer, chef, dancers, musician, dan sebagainya berkumpul di ruangan ini. Berhubung saya multi-talent (cuih), akhirnya saya memilih untuk bermain gendang toraja, membawa kecapi, bernyanyi, dan menari. Berhubung saya mengikuti tes ini sangat dadakan persiapan pun seadanya tapi tetap total dong.

ImageIni aksi saya menari di depan juri dan para peserta seleksi. Tari apa nih? Ada deh. Nyanyian saya memilih lagu makassar dengan dibumbui sedikit suara cempreng khas daerah ini. I love being unique and different, by the way. Setelah diberikan pertanyaan-pertanyaan yang cukup menegangkan, saya merasa telah menampilkan dan menjawab yang terbaik di tes kedua. Hasilnya?

ImageYeah, dari 170-lebih peserta, akhirnya bisa lolos lima besar program AIYEP. Say Yeah. Say Hooo. Say Ho Ho Ho Ho. Uyeeee. Agak lebay dikit gapapa lah yah. Jadilah akhirnya saya bertemu dengan……..

ImageWanita-wanita cantik ini.. Kalau dinilai dari muka, ya saya kalah jauh lah yau. Pertama kali melihat orang-orang ini, minder-nya saya keluar. Ihik. Tiba-tiba dihadapkan sama orang-orang yang bener-bener deh rupanya kayak model fashion yang tiba-tiba keluar dari majalah untuk ikut seleksi PPAN (halah) (imajinasi gagal). Saya akhirnya mengikuti serangkaian tes tertulis (psikologi) dan wawancara yang dihadiri semua alumni PPAN. Tes wawancara ini benar-benar menegangkan. Ibarat ujian skripsi yang dihadiri 3 penguji, tapi wawancara ini dihadiri lebih dari 10 penguji yang berdiri berderet di depan meja anda. Ini uji mental, maaaann! Seandainya saya pernah ujian skripsi… (eh) (imajinasi gagal lagi). Ya, seandainya.. seandainya.. dan seandainya. Saya hanya bisa berandai-andai, karena akhirnya, saya gagal di tes tahap terakhir ini. Oh… So Sad.

ImageWalaupun gagal, saya tidak pernah menyesali apapun. Ini pengalaman yang sangat berharga. Akhirnya saya tau, kalau saya juga bisa bahasa inggris. hahah. Berhubung dari tes awal sampai akhir harus bercuap-cuap bahasa Inggris, dan saya tidak penah lagi practice bahasa Inggris, ternyata bahasa inggris saya masih bisa diacungi jempol. Saya hanya masih harus terus belajar saja, dan harus mencari program yang sesuai dengan usia yah. Hahah. Well, Ternyata ada banyak hal yang belum saya ketahui di dunia ini. Pengalaman yang paling menyenangkan selama seleksi ini adalah saya belajar bagaimana untuk berfikir rasional di setiap tindakan, mendapatkan teman-teman yang luar biasa, dan masih teringat bagaimana saya mendapatkan satu-satunya standing ovation dari Juri saat tes tahap kedua. OMG! Terharu! Kegagalan ini terus memberikan saya kesadaran bahwa masih banyak yang harus saya pelajari. Dan akan masih banyak kesempatan yang datang di kemudian hari. Saya percaya🙂

as long as I still live and could breath, my dreams will always grow as a high-tree that will smashed the sky.. Someday and Someday! -TheRedShoes

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s