Beauty is Pain?

“Misi dek, boleh minta foto sebentar?”

“Boleh, boleh, silahkan”, kataku sambil tersenyum lebar.

4 menit kemudian..

“Wah, cantik sekali kostumnya. Boleh minta foto?”

“Oh iya, silahkan”. Sekali lagi, senyumku merekah lebar.

30 menit kemudian…

“Kostum apa ini? Cantiknya mbak. Foto dulu ya mbak, untuk anak saya..”

“Oh iya, ini kostum mamasa, bu.” Dan sekali lagi, melebarkan senyum pada lingkar-lingkar kamera telepon genggam.

——————————————————————————

Lucu juga rasanya. Setiap kali harus show di pusat perbelanjaan kota Makassar. Apalagi di hari libur. Seperti yang terjadi di Trans Mall Makassar, kemarin, 17 Mei 2012. Tidak seperti biasanya, kali ini Trans Mall benar-benar ramai pengunjung. Hari jumat yang lalu juga saya show di tempat ini untuk event Wisata Kota Medan dan menampilkan tari Pa’rasanganta yang dibumbui sedikit Pa’raga.

Sedangkan untuk hari kamis kemarin, untuk event Celebes Craft di Trans Mall, kami akan show tarian Multi Etnis. Event yang dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Selatan ini cukup menarik perhatian banyak pengunjung. Beruntung di tarian ini saya akan memakai kostum Mamasa, sementara yang lainnya akan memakai kostum Makassar, Bugis, Mandar, dan Toraja. Kelima kostum ini berwarna ungu soft yang benar-benar sempurna. Pribadi, saya suka pakai kostum mamasa ini, berhubung kostum ini sangat simple. Saya hanya membutuhkan sekitar 30 menit untuk bersiap-siap. Kunci utama dari kostum ini adalah, topi. Topi, saudara-saudara! Kostum mamasa memang sangat atraktif dan mampu menarik perhatian. Masih ingat bagaimana saat di Turki untuk 25th Golden Karagoz Folk Dance Competition, kami jadi incaran penonton untuk foto bersama. Sampai-sampai MC-nya harus turun tangan mengamankan  backstage🙂

Kemudian saat menjamu Governor of New South Wales di de Luna Cafe, kami juga memakai kostum ini dengan tarian Tondok Maleke. Walaupun kostum ini sangat cantik dan menarik, namun harus berhati-hati saat memakai. Terkadang, saya harus mendapatkan ukuran topi yang terlalu kecil dan tidak pas, sehingga saat memakainya harus menahan sakit dan cukup membuat kepala pening. Ditambah lagi topi ini cukup berat. Wuff :3

Di sisi lain, ketika saya berjalan mengenakan kostum ini untuk tampil di suatu acara, semua mata tertuju pada kostum yang ku kenakan. Tak jarang mereka menghadang dan meminta kesempatan untuk berfoto bersama. Dengan senyum yang merekah lebar, dengan senang hati saya melayani satu persatu permintaan foto bersama. Lebar sekaaaaali! Tidak nampak sedikit pun raut wajah yang sebenarnya ingin sekali mengatakan, “hey, tidakkah kalian tau, saya sedang kesakitan?” atau raut wajah yang bertuliskan, “oh neptunus, saya sedang salah memilih ukuran topi”. Ya, beauty is pain. Terkadang untuk tampil cantik memang harus kesakitan dulu. hahaha. Kapanpun kalian melihat saya tampil lagi dengan kostum ini, sebelum berfoto bersama, sepertinya kalian harus bertanya terlebih dahulu, “apakah ukuran topimu sudah tepat?”. Karena mungkin saya membutuhkan bantuan kalian untuk mengoleskan koyo di kepala. Oh, Neptunus….

Inilah resiko pekerjaan. Demi menghibur penonton, dan menyenangkan mata penonton, rela deh bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Melihat kalian tersenyum dan bertepuk tangan setelah melihat penampilan kami, merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Rasa sakit di kepala, hilang seketika. Maka saya tidak perlu panadol atau bodrex atau salonpas kan?

🙂

- Sebuah persembahan cinta The Red Shoes untuk pekerjaannya. 
Inilah cerita lain Sang Penari-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s